 Kekuatan utama sebuah perusahaan bukan pada peralatan dan pabrik, melainkan pada sumber daya manusia yang kompeten dan profesional. TEKAD untuk maju menjadi modal utama dalam dunia bisnis. Kesiapan bersaing harus diikuti dengan menciptakan lingkungan kerja yang nyaman, terbuka, dan terus berusaha menaikkan kompetensi pekerja.
Itulah modal sekaligus aset yang diyakini Dharma Djojonegoro akan menjadi pendorong kemajuan perusahaan, saat ia dipercaya menjadi Presiden Direktur PT Ancora Indonesia Resources (AIR) Tbk pada awal 2010.
"Kami ingin menjadikan perusahaan sebagai salah satu perusahaan terkemuka di Indonesia. Sebagai direktur utama, saya diberi mandat untuk memajukan perusahaan, tentu saja dengan menciptakan tata kelola perusahaan dan membina hubungan yang bagus dengan pemangku kepentingan serta masyarakat di sekitar," ujar pria berusia 36 tahun ini saat berbincang dengan Media Indonesia, akhir pekan lalu di Jakarta.
Bekal pendidikan dan pengalaman berkarier di perusahaan konsultan terkemuka McKinsey & Company menjadikan salah satu CEO termuda di Tanah Air ini meyakini bahwa sebuah perusahaan bisa berkembang bila menjunjung tinggi profesionalisme.
Meski Ancora sering dikaitkan dengan sosok Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wir- jawan dan dirinya pun tidak jarang dipandang sebagai anak mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wardiman Djojonegoro, Dharma mengaku tidak merisaukannya.
"Saya percaya ini kembali lagi ke profesionalisme dan kompetensi. Bila kita berbekal hal tersebut dan bersikap fair dalam segala interaksi kita, saya kira semua orang akan respek dan menerima," tuturnya.
Ia menyatakan akan tetap focus pada pengelolaan perusahaan secara profesional. Apalagi, para konsumen dan pelanggan cenderung membeli produk AIR tanpa melihat pemilik perusahaan atau pun yang menjadi pemimpin.
"Yang penting kita mampu memberi¬kan produk yang berkualitas dan layanan yang baik dan berkesinambungan. Setelah itu, biarkan AIR mengalir sampai jauh," pungkasnya.
Ingin membangun
Dharma mengaku memilih bergabung dengan AIR karena ingin merealisasikan ilmu dan pengalaman kerja sebagai konsultan operasional dan pengembangan bidang sumber daya alam di McKinsey.
"Walaupun saya belajar banyak dan sangat menikmati, saya sudah agak resah karena kalau di consulting, kita cuma bisa memberi nasihat, tapi tidak bisa melakukan. Saya ingin menjadi pelaku, ingin membangun,” tegasnya.
Dengan melihat potensi AIR yang berfokus di sektor industri ekstraktif, ia mengaku bisa mewujudkan cita-citanya tersebut. Pilihan untuk berkiprah di sektor industri ekstraktif nasional tidak semata disebabkan terus naiknya harga komoditas tersebut atau karena sumber daya alam pertambangan Indonesia yang melimpah.
"Kami fokus untuk mengembangkan industri ekstraktif karena kebutuhan nasional dan dunia terus meningkat. Sektor batu bara menjadi salah satu andalan kami sebelum ekspansi ke sektor ekstraktif lainnya," ujarnya.
Langkah perseroan mengakuisisi 51%-58% saham perusahaan tambang batu bara PT Raja Kutai Baru Makmur senilai US$12 juta menjadi salah satu batu loncatan untuk mengembangkan perseroan di sektor ini.
Perusahaan pun menargetkan peningkatan produksi hingga dua kali lipat dari tambang di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, yakni menjadi 150 ribu ton per bulan.
Optimisme itu, menurut Dharma, tidak berlebihan. Pasalnya, dengan total konsensi lahan 8.500 hektare, yang dieksploitasi baru sekitar 550 ha. Di lahan 550 ha tersebut terbukti ditemukan cadangan 50 juta ton batu bara dengan kandungan 5.000-5.500 kilokalori.
Produksi batu bara yang diprediksi mampu mencapai minimal 1,2 juta ton itu saat ini masih dialokasikan untuk
memenuhi kontrak penjualan ke India dan China.
"Bukan berarti kami tidak hirau dengan kebutuhan domestik. Bila produksi semakin meningkat tentu kami penuhi kebutuhan konsumen di dalam negeri. Masalah harga bukan menjadi acuan utama kami. Yang pasti kesinambungan produksi untuk memenuhi pertumbuhan permintaan pelanggan lebih utama,” ungkap Dharma.
Untuk membantu pendanaan upaya meningkatkan produksi tersebut, perseroan akan melepas saham baru (rights issue) senilai US$15 juta pada kuartal II tahun ini.
Selain mengembangkan pertambangan batu bara, perseroan terus mengembangkan pabrik bahan peledak untuk keperluan sektor pertambangan jenis amonium nitrat.
SDM yang utama
Namun, Dharma menekankan kekuatan utama sebuah perusahaan bukan pada peralatan dan pabrik, melainkan pada sumber daya manusia (SDM). Dengan SDM yang kuat, persaingan akan lebih mudah dimenangi.
"Semua tujuan perusahaan tidak mungkin terwujud tanpa orang-orang yang profesional, kompeten, berdedikasi, dan mencintai pekerjaan mereka," kata pemegang gelar master of business administration (MBA) dari Institut Europeen d'Administration des Affaires, Prancis, ini.
Semangat profesionalisme juga ia kembangkan dalam lingkungan kerja di Ancora. Segala keputusan diambil melalui diskusi dan debat berbasis fakta yang melibatkan semua pemangku kepentingan yang relevan.
"Bukan hanya karena saya hari ini punya feeling. Kami juga selalu menganut asas egaliter dengan menghormati setiap orang dari level direksi sampai level pekerja di lapangan," tuturnya.
Itu artinya, kata Dharma, perusahaan menilai karyawan dari kompetensi dan profesionalimenya. Senioritas tidak menjadi hal yang utama.
"Kalau Anda tidak profesional dan/ atau tidak kompeten, walaupun umur Anda sangat senior, saya kira tidak akan membantu. It's not how senior you are, it’s how good you are," pungkas penyuka olahraga American football tersebut. (E-l)
jajang@mecfiaindonesia.com
DHARMA DJOJONEGORO
Lahir:
Jakarta, 13 November 1974
Pendidikan:
2004-2005
Gelar MBA dari Institut Europeen d’Administration des Affaires (Insead), Prancis
1992-1996
Gelar BSc (S-1) finance, dan gelar BSc marketmg dari University of Oregon
Karier:
Desember 2009 – sekarang
Presdir PT Ancora Indonesia Resources, Tbk
2006 - 2009
McKinsey & Company
2001 -2004
Pendiri PT Abdi Dharma Nusajaya - pabrik pengecatan motor
Pendiri dan Direksi PT Nusagro - perusahaan pupuk cair dan suplemen Ternak
1997-2001
Citibank
|